Saturday, February 22, 2014

Dini in the silent night



Berpijarlah selalu hati-hati yang penuh Cinta.
Tempat Sang Maha Cinta dan KekasihNya bertemu…
yang menjadikan kita saksi dengan Dua Kalimat-Nya…
Bersyukurlah…bersyukurlah

Friday, February 21, 2014

Luka Itu Bernama Rindu


Keputusanku sudah bulat, aku harus pulang.
Aku tidak bermaksud menyakitimu Bunda, tapi laki-laki yang berbicara dengan Opa 13 tahun yang lalu itu Papa kan? Dia memanggil namaku “Wandira…”

“Sekolahmu bagaimana Dira?” Bunda tidak setuju ketika kusampaikan keinginan untuk tinggal dengan Oma dan Opa di Jakarta
“Dira kan bisa sekolah di Jakarta Bund…” jawabku dengan yakin
“Kamu keras kepala Dira!” dada Bunda terlihat sesak “kamu tahu? Dulu, Vira pergi juga gara-gara keras kepalanya!”

“Aku sayang Bunda” aku memeluk Bunda saat mengantarku ke Incheon International Airport, sepertinya Bunda terluka, dia membuang pandangan untuk menyembunyikan air mata yang terlanjur jatuh.
___

“Aku hamil!”
“Koo bisa?”
“Kita sudah melakukannya Wan..”
“Tidak mungkin…Ayah dan Ibu bisa membunuhku”
“Jadi…?”
“Gugurkan kandunganmu!”

Usia mereka masih 20 tahun kala itu, Irwan Pamungkas adalah anak tunggal keluarga terpandang yang tidak mungkin mencoreng muka Bapaknya karena kehamilan seorang wanita di luar nikah. Lupa akan kisah kasih mereka, membuat laki-laki ini kehilangan akal.

“Aku tidak mungkin punya anak saat ini!” Irwan mengelak “gugurkan kandunganmu, atau hubungan kita harus berakhir.”
Wanitanya tertunduk dalam lautan kesedihan.
“Hubungan kita berkahir Wan…janin ini sudah bernyawa.”
___

Bandara International Soekarno Hatta.
Aku menutup buku harian Mama. Sejak kecil aku berulang-ulang membaca buku harian itu, buku harian yang mencatat sejuta cinta Mama untuk Papa. Kuseka air mata, tak sabar rasanya ingin segera berpeluk dengan Oma dan Opa. Sudah 2 tahun lebih Oma dan Opa tidak mengunjungi kami ke Seoul Ibu Kota Korea Selatan, kota dimana aku dibesarkan. Biasanya hampir 3 bulan sekali Oma dan Opa mengunjungi kami, sekarang mereka sudah letih untuk berpergian terlalu jauh.

Tiga belas tahun yang lalu, Bandara ini memotret wajah seorang lelaki yang berusaha mengejarku dalam pelukan Bunda “Wandira…ini Papa…” aku melihat Opa berusaha menghalangi lelaki itu. Tubuhku masih sangat kecil, Bude Vetty yang mengganti peran Mama dan menjadi Bundaku sekarang, mengencangkan pelukannya menghindari pandangan lelaki itu  hingga aku berhasil dibawanya ke Seoul, dan aku tumbuh besar disana dengan penuh kasih sayang Bunda.

Tuhan belum memberi Bunda keturunan dari 20 tahun pernikahannya dengan lelaki berkebangsaan Korea Selatan, sehingga aku adalah buah hati bagi mereka.

“Kamu ke Jakarta karena ingin ketemu Irwan kan?” Bunda tak sengaja membaca buku harianku , aku menulis banyak rindu untuk Papa.
“Irwan tidak pernah menginginkan kamu Dira!” aku tak mampu berkata-kata saat melihat amarah Bunda
“Gara-gara Irwan kamu terlahir tanpa seorang Ayah!” wajah Bunda memerah “gara-gara Irwan, Mama mu Vira harus menanggung beban moral, dicaci, dihina, dilecehkan, terluka dan sakit…” Bunda menangis, hatinya ikut terluka mengingat kepedihan yang pernah menimpa Mama, adiknya.
“Tapi dia Papaku, dia mengejarku saat kalian berusaha membawa aku pergi…” batinku.

Ingatan tentang senyum Mama sebelum tanah merah menutup tubuhnya yang selalu menyeret rinduku untuk pulang ke Jakarta. Ada luka dalam setiap senyumnya, entah harus kuberi nama apa luka itu, rindu atau kah pedih?
Mama melahirkanku tanpa Papa, dia menepis semua cacian dan cela yang mereka sebut sebagai ‘aib’ hanya agar aku tetap hidup dan selamat. Dia sudah membuktikan kesetiaan-nya, memberiku cinta dan kehidupan, meskipun hari-hari bersamanya tidak lah lama. Kanker mengakhiri perjuangan Mama untuk melihatku tumbuh dewasa, tapi senyum itu tak mampu menghapus ingatan tentang impiannya agar aku selalu merindukan dan memaafkan Papa.
“Dira, kelak kita akan hidup bahagia…kamu, Mama dan Papa…”

--- Gadis belia Wandira berjanji dalam hatinya untuk memperbaiki kisah kasih Mama dan Papanya. Dia tidak ingin luka di senyum Mamanya menjadi kepedihan karena amarah dan dendam.

Pagi Seindah Lestari


Aku temukan kau duduk dipinggiran pagi…menggeser malam dari singgasananya, ketika mentari jatuh dan memeluk sinarnya.
Aku mencoba menerka bahasa yang tak mampu kau ucapkan, setelah perjalanan mimpi yang luruh shubuh tadi…masih tampak jelas kusutnya malam membentang dahimu…

Perlahan kau berjalan menuruni celah-celah sinarnya…mencari-cari pendengaran yang terasa hilang pagi ini..
“Kenapa?”
Kau tak berhenti mencari
“heeey…”
Diam.
Setiap sudut ruang kau singgahi, sampai peluh keringat menyapamu, tak sedikitpun urat dahi meringankan pencarianmu, dan tak kau temui apa yang kau cari

Kau mencari jemariku yang tak menari dengan Mozart pagi ini…
Kau mencari keindahan yang mengalun membangunkan senyummu..

Kekasihku saat penamu tak mampu menulis bait syair untuk ku lagukan, aku terdiam dalam lestari pagi…merenungkan sajak para pujangga…sehingga tak pendar cerita-cerita dalam benakmu.

Pagi akan selalu seindah Lestari…saat jemari kita menari berbalas syair…

Sunday, February 16, 2014

Kiani #1 Kiani #2 Kiani #3 Kiani #4


Kiani #1

Aku harus memujimu Kiani
Kekayaan yang megah
Kemegahan sempurna

Cintaku lautan tak bertepi
Batin ini mengembara memburu wujudmu

Dengan anggun kau melenggang mengacaukan lembar-lembar imajinasi sepi…
Hatiku meradang…

Mereka yang gelisah dalam rahimku…menantimu…
Mereka dan mereka pun menantimu…

Tapi aku lebih…
Aku yang menyulam gaunmu.

---repost---


Kiani #2

Semburat senyumu seperti senja
Senja tempatku bercinta dengan-Nya

Ampuni aku Kiani
Ketika sangkaku berkata, seolah harap itu telah hilang
Namun kau tetap tersenyum
Tak sedikit pun pudar, cerah dimatamu
Meski hati ini basah oleh tangis…

“kemarin aku disentil senja, dia membuka lipatan wajahku yang lupa Tuhan

---repost---



Kiani #3

Seperti ketika aku sakit…
Tiba-tiba Tuhan datang membawa cinta yang aku pesan
yang tidak pernah aku duga sebelumnya
cinta itu dikemas dengan senyuman dan tawa manis kamu yang nakal…
seperti  itulah Tuhan memberikan jalan-Nya agar aku selalu merasa bahagia..

Dan hari ini pun aku sedang menunggu Tuhan membawa bingkisan yang aku pesan…
Aku akan mengejar-Nya---

Lihat aku Kiani
Agar bingkisan itu segera aku terima

 ---repost---


Kiani #4

Lama tak menyapamu
Aku rindu
Tadi pagi, aku mendengar alunan mozart menelusup
Aku tau itu kau. Anggun.
Aku baik saja dan tersenyum
Seperti katamu.

Sudah tak ada tangis, getir
Kabar gembira pun masih mistery, setidaknya hari ini
Teruslah menari Kiani
Kusambut hari yang tak letih

---kau diam namun begitu memanggil…